Selamat Datang di Blog saya yang sederhana, untuk stop lagu klik stop pada pemutar musik di kiri bawah, Terima Kasih Atas Kunjungannya

Jumat, 19 Oktober 2012

ORANG JAWA YANG “ORA NJAWANI”

Tulisan ini bukan tulisan rasisme, hanya sebuah penjelasan bahwa saya masih orang jawa walaupun kata orang saya orang jawa yang “Ora Njawani”.

Saya orang jawa tulen, saya berani mengatakan itu karena walaupun mayoritas suku jawa tidak bermarga, tapi setidaknya dari umur 0-19 tahun saya lahir dan besar di jawa, orang tua saya keduanya pun mengaku orang jawa, bahasa pertama yang saya kuasai adalah bahasa jawa, setidaknya empat generasi lurus ke atas (saya tidak memperoleh informasi generasi lima keatas) baik dari garis ibu maupun garis bapak adalah suku jawa, dan setidaknya dari saya dan kira-kira empat generasi lurus ke atas itu pun juga bukan sekedar lahir dan hidup di jawa tetapi juga mengaku sebagai orang jawa. Serta tidak dapat dipungkiri saya pun punya rasa kesukuan sebagai suku jawa. Sehingga tidak ada alasan yang bisa mengatakan saya bukan orang jawa.

Sebagai orang jawa, saya pun dididik dan dibesarkan dengan filosofi jawa. Unggah-ungguh, toto kromo, ewuh pakewuh (sungkan, tidak enak, segan, dsb) dan paling susah mengatakan “tidak”, itu menjadi ciri khas filosofi jawa. Filosofi jawa itu sangat adi luhung jika memang tepat dalam penempatannya, pendapat saya ini mungkin yang membuat saya di-cap “wong jowo neng ra njawani” (orang jawa tapi tidak menunjukkan perilaku sebagai orang jawa). Walaupun pendapat itu tidak sepenuhnya salah, karena kadang saya tidak punya rasa ewuh pakewuh, saya langsung mengatakan “tidak” beserta alasannya jika saya memang kurang setuju terhadap sesuatu atau menolak sesuatu tanpa “ngomong ngalor ngidul”, tapi ujung-ujungnya adalah “tidak” juga, saya kurang fasih untuk “boso” kepada orang yang lebih tua (menggunakan tingkatan bahasa sesuai dengan lawan bicara, semakin tua lawan bicara atau semakin tinggi kedudukannya maka menggunakan model bahasa yang semakin halus).

Tapi ada suatu peristiwa, akibat ewuh pakewuh tadi, justru menimbulkan fitnah dan benci satu sama lain tanpa tahu sebabnya. Ini adalah kejadian nyata tapi namanya disamarkan. Bu Adri mempunyai sebuah usaha dagang di toko dan mempunyai karyawan bernama Embak, Bu Adri dan Embak keduanya orang jawa. Embak bertugas menjaga toko milik Bu Adri, kemudian jika ada barang-barang yang laku akan dilakukan pencatatan. Bu Adri memang tidak mencatat secara detil barang-barang yang dijual di toko, tapi secara garis besar tahu jumlah barang-barang di tokonya, seperti misalnya barang jenis x yang harganya y hari ini masih ada  12 buah, sehingga jika besok barangnya berkurang 1 bu Adri pasti akan tahu, kecuali terhadap barang-barang curah mungkin jika barang tersebut berkurang 1-3 buah bu Adri mungkin tidak mengetahuinya. Pada hari tertentu bu Adri seharian tidak ke toko, sehingga yang menjaga tokonya adalah Embak, sore harinya bu Adri ke toko dan melihat catatan penjualan. Setelah Embak pulang, menurut bu Adri terdapat ketidakcocokan antara catatan penjualan dan jumlah stok barang. Ada barang yang mirip (mungkin benar-benar mirip karena desainnya sama) namun yang satu terbuat dari bahan imitasi dan yang satu dari kulit asli, sehingga harga barang yang terbuat dari kulit adalah tiga kali lipat yang imitasi. Posisi barang pun letaknya berbeda dan masing-masing diberi label harga. Di laporan penjualan barang yang laku adalah barang yang imitasi, sedangkan barang yang berkurang adalah barang yang terbuat dari kulit. Dan anehnya satu buah barang yang berbahan imitasi tadi berpindah tempat jadi satu dengan barang yang terbuat dari kulit, sehingga menimbulkan posisi kosong satu buah di deretan barang yang berbahan imitasi. Sehingga seolah-olah barang yang terjual adalah barang yang imitasi. Dalam hal ini terdapat beberapa kemungkinan:
1.       Embak keliru dalam menjual barang dan Embak tidak menyadarinya, karena barangnya mirip sehingga pembeli dapat barang bahan kulit dengan harga imitasi
2.       Embak keliru dalam menjual barang tetapi tidak berani ngomong, jadi pembeli memilih-milih dua barang tersebut, kemudian memutuskan untuk memilih yang bahan imitasi, tetapi Embak justru menyerahkan barang yang kulit, setelah pembeli berlalu, baru Embak sadar kalau keliru menjual barang, sehingga dipindahkan saja barang yang imitasi ke tempat barang yang kulit, walaupun sebenarnya ada label harganya.
3.       Embak memang tidak jujur, yaitu menjual barang kulit tetapi dilaporkan barang imitasi, kemudian dipindahkan barang yang imitasi ke tempat barang yang dari kulit, sehingga seolah-olah yang terjual yang imitasi atau jika ketahuan seolah-olah memang terjadi kekeliruan.

Keesokan harinya Bu Adri menanyakan kepada Embak:
Bu Adri : “Kemarin barang yang laku yang mana?”
Embak  : “yang imitasi itu bu”
Bu Adri : “O, ya sudah”

Pada sore hari bu Adri ngomong dengan Embak bahwa mulai besok Embak disuruh libur dengan alasan toko lagi sepi. Embak menanyakan kapan bisa masuk lagi, dijawab oleh bu Adri “nantilah kalau sudah agak rame”. Sebenarnya itu adalah PHK, namun bu Adri menyampaikan secara implisit dan dengan alasan yang tidak jelas.

Menurut bu Adri, Embak tidak jujur, karena menjual barang kulit tapi mengaku imitasi, padahal hal tersebut tidak pernah dikonfirmasi dengan Embak. Mungkin Embak juga bingung kenapa tiba-tiba disuruh berhenti. Ada beberapa kemungkinan yang ada dalam pikiran Embak:
1.       “Kenapa tiba-tiba saya disuruh berhenti, apa salah saya?” Ini kalau Embak memang merasa tidak bersalah, karena Embak memang keliru, tapi Embak tidak tahu kalau dia keliru.
2.       “Apa mungkin Bu Adri tahu kalau barang yang saya jual kemarin salah?, tapi kenapa bu Adri tidak mengkonfirmasi dengan saya?” Ini kalau Embak tahu dia memang keliru, tapi takut ngomong, dan bu Adri pun tidak pernah menanyakannya
3.       “Ya sudahlah, mungkin bu Adri tahu kalau aku curang” Ini kalau Embak memang tidak jujur, sehingga dia menganggap pemberhentian dia sebagai akibat ketidakjujurannya, walaupun hal tersebut tidak pernah dikonfirmasi antara kedua belah pihak.
4.       “Mungkin memang lagi sepi beneran”, ini sih tidak ada hubungannya dengan kasus kekeliruan tersebut, namun Embak menganggap memang penjualan lagi sepi, sehingga wajar kalau disuruh istirahat dulu, terlepas jujur atau tidak jujurnya Embak.

Seluruh sangkaan-sangkaan di atas akan menjadi terang benderang jika bu Adri membuang rasa ewuh pakewuh, tidak enak, dsb. Saya sudah menyarankan kepada bu Adri untuk menanyakan kepada Embak tentang barang yang terjual dan mengatakan bahwa barang yang berkurang adalah barang yang terbuat dari kulit yang harganya tiga kali lipat dari barang imitasi serta menyatakan kepada Embak bahwa dia telah keliru menjual barang, sehingga nanti kita tahu reaksinya seperti apa.  Tapi bu Adri beranggapan jika kita menanyakan langsung seperti itu nanti seolah-olah nuduh Embak tidak jujur, dsb. Terus kalau tidak mengkonfirmasi harusnya ikhlaskan saja kerugian itu, tapi bu Adri tetap gak bisa mengikhlaskan.

Ini kan menjadi tidak fair, dengan alasan ewuh pakewuh, tidak mau menanyakan, namun konsekuensi kerugian tidak mau terima. Jadi, sampai sekarang bu Adri tidak pernah tahu kejadian sebenarnya, tapi hanya berprasangka gak jelas. Embak pun kita tidak tahu pikiran yang berkecamuk dalam dirinya, karena semuanya implisit, semua kejadian itu dibungkus dengan BASA-BASI PICISAN, dengan mengatas namakan ewuh pakewuh. Ini yang saya benci dari ewuh pakewuh, membuat perkara menjadi kabur, gak jelas, bahkan menimbulkan fitnah satu sama lain, di depan bermanis-manis muka, tapi di belakang ternyata saling menghujat. Ini yang membuat orang menganggap saya “ora njawani”, karena dianggap terlalu blak-blakan sehingga kadang-kadang orang tersinggung. Bagi saya membuat semuanya jelas terang benderang lebih penting daripada takut orang tersinggung tapi justru menimbulkan fitnah.