Selamat Datang di Blog saya yang sederhana,Terima Kasih Atas Kunjungannya

Kamis, 06 September 2012

Edelweiss

Pukul 23.39, walaupun tubuh terasa lelah, namun mata enggan terpejam, biasanya setelah kumatikan lampu kamar dalam hitungan menit, jiwaku sudah masuk ke dimensi lain, yaitu dimensi yang didalamnya terdapat alam yang disebut mimpi. Malam itu, aku memandangi langit-langit kamar, namun alam pikiranku menerawang jauh, terlintas kenangan belasan tahun lalu. Tiba-tiba jiwaku tenggelam dalam masa-masa ketika aku masih kanak-kanak. Aku tidak tahu mengapa masa itu yang terbersit dalam lamunanku. Lamunanku beralih ketika aku kelas 3 SD, aku pulang sekolah dengan jalan kaki bersama teman-teman yang lain, saling bercanda tanpa beban walau satu gram sekalipun. Tidak sedikitpun terbersit kelak akan menjadi penerus peradaban bersama-sama dengan ratusan juta anak-anak lain di penjuru dunia. Waktu itu aku melihat bunga yang cukup membuat aku tertarik, bunga itu berada di pekarangan sekolahku, secara diam-diam putiknya kupetik dan kusimpan. Saat itu aku hanyalah makhluk kecil seperti buah mangga yang masih sangat hijau, bahkan belum pantas untuk dibuat manisan sekalipun. Aku semakin tenggelam di dalamnya palung masa laluku yang airnya sebening limbah pabrik. Aku merupakan tunas dari pohon pisang yang dikarbit. Tapi sebagai roh ciptaan Yang Maha Agung, jiwaku tidak terikat oleh gelembung-gelembung sabun yang fana. Dalam jiwaku terdapat cinta yang beningnya seperti embun pertama di pagi hari, tidak akan memilih akan jatuh di daun keladi atau rerumputan, tapi dia hanya jatuh menuruti arah gravitasi bumi, dia tak pernah sedikitpun melawan kehendak alam. Ingin rasanya aku siram bunga itu dengan air yang kupompa dari sumur kalbuku, yang airnya sekeruh butiran salju yang jatuh di musim dingin. Namun apa daya, sumur itu terlalu dalam, tanganku terlalu mungil untuk meraih timba. Sekarang bunga itu telah dipetik oleh seseorang, dan kulihat telah dipindahkan di pekarangannya. Tapi aku hanya dapat melihatnya di kejauhan, aku menjadi teringat tentang putiknya yang pernah kupetik waktu itu. Setelah kucari kemana-mana di brankasku, di arsip file-fileku putik bunga itu tidak menampakkan wujudnya. Huh! Tentu saja pasti putik bunga itu sudah musnah oleh lindasan waktu. Tapi tak kunyana kulihat benda berwarna putih di kedalaman jurang kalbuku yang tak berujung, ternyata itu adalah putik bunga yang waktu itu kucuri. Masih utuh, segar, sama seperti waktu kupetik. Kemudian aku tahu ternyata itu adalah edelweiss. Ternyata waktu itu bunga yang putiknya kupetik adalah edelweiss. Seorang bocah ingusan justru tertarik dengan edelweiss yang warnanya tidak terlalu menarik, padahal disana tersebar mawar, lotus, krisan, yang berwarna-warni. Tapi aku cukup lega karena edelweiss itu sudah mendapat tempat yang cukup pantas di pekarangan rumah orang itu, edelweiss itu cukup terawat dan segar. Aku hanya ingin mengatakan kepada edelweiss itu, bahwa beberapa putiknya masih tersimpan di kedalaman palung kalbuku, tanganku tak sampai  menjangkaunya untuk untuk mengambil dan membuangnya, bahkan ketika kupakai  tali untuk turun, kulihat putik bunga itu semakin jauh ke dalam, semakin aku turun ingin menjangkaunya, semakin dia masuk ke dalam. Tiba-tiba lamunanku buyar seperti serpihan puzzle, butuh waktu lama untuk menyusunnya lagi. Sudahlah, waktunya memberikan salam kepada sang malam, karena pada gilirannya nanti si pagi akan memaksaku kembali menghadapi ganasnya buana. Jarum jam itu dengan sangat terpaksa menunjukkan pukul 00.29.